Pimred Bersatu Gugat Intervensi Pers, Bongkar Tragedi Kesejahteraan Rakyat

 




SUM SEL infodesanasiona.id,- Dari sebuah warung kopi sederhana bernama Warkop Janda, perlawanan moral insan pers nasional bergema keras. Di bawah kepulan asap rokok dan pahitnya kopi hitam, para Pimpinan Redaksi (Pimred) dari berbagai penjuru Indonesia menyatukan sikap: melawan intervensi pers dan membongkar tragedi kesejahteraan rakyat yang selama ini ditutup rapat.

Berlokasi di Jalan Cinta RT 00 RW 11, Desa Belaian, Jawa Barat, tempat ini bukan sekadar kedai. Ia menjadi simbol perlawanan akar rumput, ruang konsolidasi nurani, sekaligus titik tolak gerakan jurnalisme berani yang menolak tunduk pada tekanan kekuasaan.

Forum ini dihadiri para Pimred senior lintas suku, agama, dan latar belakang media. Nama-nama seperti Bang Ali, Bang Edi Uban, Bang Jhon, Bang Erik, Bang Rony, Bang Sabar, Bang Fajar, Mbak Fitri, Bang Hermanius, Rizal, serta Pimred lainnya dari berbagai daerah menyatakan sikap satu suara: pers tidak boleh dijinakkan, kebenaran tidak boleh dibungkam.

Pertemuan tersebut melahirkan forum diskusi kritis dan aksi solidaritas jurnalistik sebagai respons atas kondisi nasional yang dinilai semakin brutal terhadap rakyat. Beban hidup kian mencekik, sementara narasi kesejahteraan terus dipoles menjadi angka statistik kosong yang jauh dari realitas di lapangan.

Para Pimred menilai, tekanan dan intervensi terhadap kerja jurnalistik kini berlangsung masif, sistematis, dan vulgar. Dari intimidasi, kriminalisasi, hingga pembungkaman opini publik—semua menjadi ancaman nyata bagi kebebasan pers dan hak masyarakat atas informasi yang jujur.

Dengan satu visi dan tanpa sekat kepentingan, forum ini berkomitmen menjadikan pena sebagai senjata perlawanan. Media bukan alat kompromi kekuasaan, melainkan alat pembongkar ketidakadilan dan penjaga nurani publik.

Forum Pimred menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat bukan jargon politik, melainkan hak dasar yang wajib diperjuangkan. Pers berdiri tegak di pihak publik, bukan menjadi stempel kepentingan elite.

“Kami berkumpul dengan hati nurani, bukan pesanan. Di meja kayu ini, dengan secangkir kopi dan telo goreng, kami berikrar akan terus menyuarakan jeritan rakyat dan melawan setiap bentuk penindasan publik,” tegas perwakilan forum.

Dari Warkop Janda, pesan itu dikirim ke seluruh penjuru negeri:

Pers bersatu. Kebenaran dilawan balik. Ketidakadilan dibongkar tanpa ampun.

(Tim)

Post a Comment for "Pimred Bersatu Gugat Intervensi Pers, Bongkar Tragedi Kesejahteraan Rakyat"