Valentine Day dan Yustina — Cinta yang Tak Pernah Selesai (Untuk Ibu Yustina Ena Payong) Oleh Yurgo Purab

 


NTT, infodesanasional.id,- Kepergian Mama Yustina Ena Payong terasa begitu cepat. Dalam sebuah kenangan, ia pernah berkata, “Ugo (Yurgo), ade-ade masih kecil.” Kalimat sederhana itu kini terngiang sebagai pesan kasih yang tak akan pernah pudar.

Mama Yustina Ena Payong—yang akrab disapa Mama Yu—berpulang pada Sabtu, 14 Februari 2026, bertepatan dengan Hari Valentine, hari yang identik dengan kasih sayang. Di hari yang dirayakan sebagai simbol cinta, ia justru pergi meninggalkan keluarga tercinta, seakan mengingatkan bahwa kasih sejati adalah warisan yang harus terus hidup.

Selama masa sakitnya, keluarga tak pernah berhenti berharap akan mukjizat Tuhan. Doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap, memohon kesembuhan. Namun Tuhan berkehendak lain. Mama mengembuskan napas terakhir di hadapan suami, anak-anak, keluarga, dan cucu-cucunya—dalam lingkaran cinta yang selama ini ia rawat.

Sosoknya dikenal sebagai ibu yang tangguh dan penuh tanggung jawab. Ia mencintai dengan sepenuh hati dan membesarkan anak-anaknya dengan pengorbanan. Doa-doanya membentang luas, menyertai langkah mereka dalam menenun mimpi dan merajut cita-cita. Tegas dalam prinsip, namun lembut dalam cara, Mama Yustina adalah pribadi yang jujur menyampaikan kebenaran, meski terkadang terasa menyakitkan.

Hari-hari sakit yang dijalaninya bukanlah hal mudah. Ketika rasa gelisah datang dan penyakitnya kambuh, rumah sakit menjadi tempat paling aman untuk beristirahat. Meski tak lagi mampu berjalan, ia masih sempat pulang ke rumah. Dalam momen itu, penulis sempat menggendongnya dan merasakan beban yang selama ini dipikul sang suami, Venentius Berkama Kelen, yang setia mendampingi dan merawatnya. Bahkan dalam kondisi lemah, Mama tetap menjadi sumber kasih dan keteguhan.

Cinta Mama juga tercurah untuk kedua cucunya, Ludwig dan Mario. Ketika penulis kembali melanjutkan kuliah di Maumere dan meninggalkan Elyn, Ludwig tinggal bersama Mama dan mendapat limpahan kasih sayang tanpa cela. Sementara saat Mario lahir, Mama sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Di saat bersamaan, sang suami menghadapi dilema antara menjaga istri tercinta atau mendampingi anak yang akan melahirkan—sebuah pergulatan hidup yang tidak mudah, namun berhasil dilalui bersama.

Kini, ziarah hidup Mama Yustina Ena Payong telah usai. Namun cintanya tak pernah selesai dikenang. Senyum dan tawanya mungkin tak lagi terdengar, tetapi nilai-nilai hidup yang ia tanamkan akan terus bertumbuh dalam hati keluarga.

Ia meninggalkan enam anak tercinta: Elyn, Oca, Didi, Mia, Karlind, dan Nokel—enam bersaudara yang dibesarkan dengan cinta, air mata, dan pengorbanan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun juga keyakinan bahwa kini ia telah bebas dari segala sakit dan penderitaan.

“Ibu dikodratkan menderita dan mencucurkan air mata saat melahirkan, dan ayah menyayangi sejauh ia sanggup. Namun itu bukan alasan untuk membagi kasih dan memilih dalam menghargai. Berkat bagi ziarah hidupku datang dari ayah, dan getar bagi nasib jiwaku lahir dari doa seorang ibu.”

Selamat jalan, Mama Yustina Ena Payong. Cintamu akan selalu hidup di hati kami.

Post a Comment for "Valentine Day dan Yustina — Cinta yang Tak Pernah Selesai (Untuk Ibu Yustina Ena Payong) Oleh Yurgo Purab"