Musi Banyuasin, infodesanasional.id, – Keresahan melanda warga Desa Tanjung Agung Timur, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin. Hampir setiap hari, kapal tongkang bermuatan batu bara dilaporkan bersandar di sepanjang bantaran sungai tanpa dermaga resmi, bahkan tepat di dekat kuburan warga dan lahan sawit milik masyarakat.
Aktivitas kapal-kapal tersebut diduga kuat menjadi penyebab longsornya tanah di bibir sungai, yang terus terkikis dan jatuh ke aliran sungai. Kondisi ini membuat warga khawatir akan keselamatan lingkungan, aset, hingga tempat pemakaman keluarga mereka.
“Setiap hari ada kapal sandar. Ombaknya besar, tanah di pinggir sungai makin habis. Kuburan sudah sangat dekat dengan sungai,” ungkap salah satu warga dengan nada geram.
Warga menyebutkan, selain menyebabkan abrasi dan longsor, aktivitas kapal batu bara juga mengganggu ketenangan masyarakat. Debu, kebisingan, dan gelombang air dari kapal membuat lahan sawit warga terancam rusak dan produktivitas menurun.
Yang membuat warga semakin kecewa, hingga kini belum terlihat tindakan tegas dari pihak berwenang. Kapal-kapal tersebut tetap bebas bersandar seolah kebal hukum, meski jelas tidak memiliki fasilitas dermaga dan berada sangat dekat dengan permukiman serta area sensitif.
“Kalau dibiarkan terus, bukan cuma tanah yang hilang, tapi makam keluarga kami bisa hanyut ke sungai,” tambah warga lainnya.
Masyarakat mendesak pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan instansi terkait untuk segera turun tangan, menertibkan aktivitas kapal batu bara ilegal, serta melindungi keselamatan warga dan lingkungan Desa Tanjung Agung Timur.
Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan kerusakan lingkungan akan semakin parah dan memicu konflik sosial di kemudian hari.
Warga menegaskan: keselamatan dan lingkungan tidak boleh dikorbankan demi kepentingan bisnis batu bara.
(Yayan)

Post a Comment for "Kapal Batu Bara Bersandar Tanpa Dermaga, Warga Tanjung Agung Timur Resah: Kuburan Terancam, Lahan Sawit Longsor"