Lalan, infodesanasional.id – Penantian masyarakat Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, terhadap rampungnya pembangunan Jembatan Lalan kembali diuji. Setelah jalur lalu lintas sungai dibuka pada Januari 2026, harapan akan pulihnya distribusi barang dan mobilitas warga sempat menguat. Namun, serangkaian insiden tabrakan tongkang terhadap tiang revitalisasi jembatan membuat proyek kembali tersendat.
Sejak difungsikan kembali, tercatat dua kali tongkang pengangkut batu bara dan kayu akasia menabrak tiang jembatan. Insiden tersebut tidak hanya merusak struktur yang baru diperbaiki, tetapi juga memaksa pekerjaan konstruksi diulang. Ironisnya, perbaikan yang dilakukan seolah tak pernah benar-benar tuntas.
Satu Bulan, Satu Insiden
Alih-alih berhenti pada dua kejadian awal, pola tabrakan justru berlanjut. Hampir setiap bulan, tiang revitalisasi kembali tertabrak dan mengalami kerusakan serius.
Memasuki bulan ketujuh, perbaikan masih terus berlangsung. Setiap kali tiang selesai diperbaiki, tak lama kemudian kembali rusak akibat dihantam tongkang yang melintas di alur sungai.
Proyek revitalisasi ini didanai asosiasi batu bara dengan nilai anggaran Rp 69 miliar. Pembangunan ditargetkan rampung pada 31 Desember 2025. Namun, hingga Januari 2026 progres pemasangan rangka baja baru mencapai sekitar 30–43 persen. Revitalisasi dilakukan untuk menggantikan jembatan lama yang ambruk akibat ditabrak tongkang batu bara.
Kondisi tersebut membuat target penyelesaian tak pernah benar-benar tercapai. Proyek yang diharapkan selesai tepat waktu kini berubah menjadi pekerjaan berulang tanpa kepastian.
Dampak Langsung terhadap Ekonomi Warga
Bagi masyarakat Lalan, jembatan bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi perekonomian. Aktivitas perdagangan, distribusi hasil perkebunan, hingga akses pendidikan dan layanan kesehatan sangat bergantung pada kelancaran transportasi.
Keterlambatan penyelesaian berdampak pada meningkatnya biaya angkut dan waktu tempuh. Pedagang mengeluhkan ongkos distribusi yang membengkak, petani harus menunggu lebih lama untuk mengirim hasil panen, sementara pelaku usaha kecil merasakan penurunan daya beli akibat terganggunya perputaran ekonomi.
Di sisi lain, lalu lintas tongkang batu bara dan akasia tetap berjalan karena menjadi jalur distribusi utama perusahaan. Benturan yang terus terjadi memunculkan pertanyaan publik: apakah pengaturan alur sungai sudah cukup aman? Apakah sistem pengamanan tiang jembatan dirancang untuk menghadapi lalu lintas kapal bermuatan besar?
Evaluasi Menyeluruh Dinanti
Sejumlah kalangan menilai perlu evaluasi menyeluruh, baik dari aspek teknis konstruksi maupun tata kelola lalu lintas sungai. Faktor arus, sedimentasi, lebar alur, hingga sistem pelindung tiang dinilai harus ditinjau ulang agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Namun hingga kini, masyarakat belum melihat solusi permanen yang mampu menghentikan siklus kerusakan tersebut.
Di tengah kekecewaan publik, muncul istilah satir yang ramai diperbincangkan, “Bandung Bondowoso beraksi.” Istilah ini merujuk pada legenda Bandung Bondowoso yang konon mampu membangun seribu candi dalam semalam—sebuah analogi terhadap tiang jembatan yang terus dibangun ulang setiap bulan.
Bedanya, dalam legenda bangunan berdiri kokoh. Di Lalan, tiang yang dibangun seakan hanya menunggu waktu untuk kembali roboh.
Harapan akan Solusi Permanen
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait menghadirkan solusi komprehensif, bukan sekadar perbaikan sementara.
Audit teknis independen, penguatan sistem pengamanan, hingga penataan ulang jalur pelayaran dinilai sebagai langkah mendesak.
Jembatan Lalan bukan hanya proyek konstruksi, melainkan simbol harapan masyarakat terhadap konektivitas dan pertumbuhan ekonomi. Jika perbaikan terus berulang tanpa penyelesaian akar masalah, kerugian bukan hanya pada anggaran, tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi warga.
Setelah tujuh bulan perbaikan tanpa kepastian, publik kini menanti komitmen nyata. Sebab pembangunan infrastruktur semestinya menghadirkan kepastian, bukan ketidakpastian yang berulang setiap bulan.
(Yayan Haryono, S.E.)

Post a Comment for "Jembatan Lalan Tak Kunjung Selesai, Ekonomi Warga Terdampak; Tujuh Bulan Perbaikan Berulang"