Warga Muba Meledak! Sungai Tak Dibuka, Sawah Hancur, Bupati Hanya Telepon


Sekayu, MUBA, infodesanasional.id,- Ketidakjelasan penyelesaian konflik antara warga Desa Karang Anyar, Kecamatan Lawang Wetan, Kabupaten Musi Banyuasin dengan perusahaan PT Guthrie Pecconina Indonesia (GPI) akhirnya memicu kemarahan terbuka.

Bertahun-tahun menunggu tanpa hasil, warga bersama sejumlah organisasi seperti Barikade 98, GEMPITA, AWDI, dan Cakar Sriwijaya turun ke jalan. Mereka menggelar aksi di Kantor Bupati, Kamis (09/04/2026), membawa satu pesan tegas: cukup sudah janji, saatnya bukti.

Puluhan massa berteriak lantang, menuntut dua hal yang hingga kini tak kunjung diselesaikan—pembukaan kembali aliran Sungai Lengaran Ilir dan ganti rugi lahan sawah yang rusak.

“Sudah terlalu lama kami dipermainkan. Sawah hancur, penghasilan lenyap, tapi pemerintah seperti tutup mata,” tegas Lukman, tokoh masyarakat setempat.

Pemerintah Dinilai Mandul

Kekecewaan warga bukan tanpa alasan. Tim terpadu yang digadang-gadang menjadi solusi justru dianggap tidak pernah bekerja nyata.

“Tim itu ada atau tidak? Sampai sekarang tidak pernah turun, tidak ada penjelasan. Ini bukan solusi, ini pembiaran!” kecam Lukman.

Alih-alih membawa jawaban, pemerintah daerah justru dinilai semakin menunjukkan ketidakseriusan dalam menangani persoalan yang menyangkut hajat hidup masyarakat kecil.

Nyaris Ricuh, Massa Siap Bakar Ban

Situasi sempat memanas. Massa mencoba menerobos masuk ke kantor bupati demi menuntut audiensi langsung. Ketegangan meningkat hingga muncul ancaman pembakaran ban di depan kantor sebagai simbol kemarahan yang memuncak.

Di tengah situasi yang hampir meledak, muncul kabar yang justru membuat publik mengernyit: bupati hanya merespons lewat sambungan telepon.

Dalam percakapan itu, bupati meminta warga bersabar dan menjanjikan pertemuan lanjutan, dengan alasan sedang berada di Palembang.

Telepon Bukan Solusi

Bagi warga, respons tersebut jauh dari kata memadai.

Di saat rakyat kehilangan mata pencaharian, pemerintah justru hadir lewat sambungan suara—tanpa kepastian, tanpa tindakan nyata.

“Kami hargai niat baik, tapi kami tidak butuh kata-kata. Kami butuh bukti! Sungai harus dibuka, sawah harus diganti rugi!” tegas Lukman.

Bom Waktu yang Siap Meledak

Aksi ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Ini adalah akumulasi kekecewaan panjang yang kini mencapai titik didih.

Jika tuntutan tidak segera direalisasikan, warga memastikan akan kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar.

Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin kini berada di persimpangan:

bertindak cepat atau menghadapi gelombang perlawanan rakyat yang semakin tak terbendung.

(Yayan Haryono)

Post a Comment for "Warga Muba Meledak! Sungai Tak Dibuka, Sawah Hancur, Bupati Hanya Telepon"