Sungai Lilin – Kesabaran masyarakat Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), tampaknya mulai habis akibat seringnya pemadaman listrik yang terus terjadi hampir setiap hari. Ironisnya, pemadaman berlangsung tanpa mengenal waktu dan kondisi cuaca. Mau hujan ataupun panas terik, listrik tetap saja padam berulang kali.
Warga mengaku sudah sangat resah dengan kondisi tersebut. Bahkan sebagian masyarakat menyebut listrik di Sungai Lilin saat ini sangat tidak stabil dan jauh dari kata layak. Pemadaman yang terjadi berkali-kali dalam sehari dinilai telah mengganggu seluruh aktivitas masyarakat, mulai dari pekerjaan rumah tangga, aktivitas usaha kecil, hingga kegiatan belajar anak-anak pada malam hari.
“Kadang belum sampai lima jam sudah mati lagi. Mau siang atau malam sama saja. Hujan mati, panas juga mati. Sudah seperti langganan,” keluh seorang warga.
Kondisi ini pun memunculkan kembali sindiran lama yang sudah sangat terkenal di tengah masyarakat Sungai Lilin, yakni: “Sungai Lilin kena kentut saja mati lampu.” Ungkapan tersebut kini kembali ramai diucapkan warga sebagai bentuk kekecewaan terhadap buruknya pelayanan listrik yang mereka rasakan.
Yang membuat masyarakat semakin kecewa adalah kewajiban pembayaran listrik tetap harus dilakukan tepat waktu. Warga membeli token tepat waktu, pelanggan bulanan juga rutin membayar tagihan tanpa pernah telat. Namun pelayanan yang diterima dinilai tidak sebanding dengan kewajiban masyarakat sebagai pelanggan.
“Kalau telat bayar langsung kena denda atau diputus. Tapi kalau listrik mati terus, siapa yang bertanggung jawab atas kerugian masyarakat?” ujar warga lainnya dengan nada kesal.
Pemadaman yang terus terjadi juga menyebabkan banyak peralatan elektronik warga terancam rusak akibat tegangan listrik yang tidak stabil. Para pelaku usaha kecil seperti pedagang es, warung, hingga usaha rumahan mengaku mengalami kerugian karena aktivitas usaha terganggu setiap kali listrik padam mendadak.
Tidak hanya itu, suasana di sejumlah wilayah Sungai Lilin kini seperti kembali ke masa lampau. Di daerah C2 Sungai Lilin misalnya, warga terpaksa kembali menggunakan lampu minyak dan lilin sebagai penerangan utama saat malam hari karena listrik terlalu sering padam.
Pemandangan rumah-rumah yang diterangi lilin kini menjadi hal biasa di tengah masyarakat. Situasi tersebut dinilai sangat memprihatinkan, mengingat listrik merupakan kebutuhan dasar masyarakat modern yang seharusnya dijaga stabilitasnya.
DPD GEMPITA MUBA melalui Mauzan turut menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi yang dialami masyarakat Sungai Lilin. Menurutnya, pemadaman listrik yang terus menerus terjadi bukan lagi persoalan sepele, melainkan sudah menjadi keluhan serius masyarakat yang harus segera ditangani.
“Jangan sampai masyarakat terus dijadikan korban. Warga sudah memenuhi kewajibannya sebagai pelanggan, maka pelayanan juga harus maksimal. Jangan sampai masyarakat merasa dianaktirikan,” tegas Mauzan.
Masyarakat kini berharap PLN tidak hanya diam dan membiarkan keluhan warga terus berulang tanpa solusi nyata. Warga meminta adanya penjelasan resmi terkait penyebab seringnya pemadaman serta langkah konkret agar listrik di Sungai Lilin kembali normal dan stabil.
Sebab bagi masyarakat, listrik bukan lagi kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan utama yang menyangkut aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya kerugian materi yang dirasakan warga, tetapi juga hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan listrik di daerah mereka sendiri.(Tim)

Post a Comment for "Listrik di Sungai Lilin Kerap Padam, Warga Kesal: “Kena Kentut Saja Mati Lampu”"